bagaimana kabar kawan kawan?
yah..kali ini saya ingin menulis tentang teman teman dari asal kami berada. dua orang teman yang telah merantau ke ibukota. meski pertemenan kami aneh, saya belajar hal realistis dari dua orang itu. mereka adalah marak dan anang. teman perempuan saya sekarang bekerja di leasing mobil. sedangkan teman saya yang laki laki bekerja di bagian IT. Mereka pernah saya jodohkan. tapi, sialnya mereka teman saya yang perempuan malah kecantol dengan tetangga teman laki laki saya. tapi, tak apalah…sekarang teman saya itu sudah menikah dan memiliki anak…
Yah..mengapa saya bilang mereka sangat realistis? karena setelah kuliah mereka langsung kerja, tak pilih pilih, menikah, memiliki anak dn sangat simple…beda dengan saya yang selalu berputar puter..he he…
Kangen ngobrol dengan mereka. karena mungkin kesempatan untuk berkumpul kembali sangat sulit…semoga mereka baik baik saja…
Awal…
Akhirnya …
menulis lagi di blog..tulisan ini dibuat saat ikut pelatihan @hotel sunan surakarta. pelatihan kali ini tentang bagaimana menulis laporan khusunya merapi. dapat ide bagus…salah satu yang menurutku keren adalah bahwa banyak orang yang berkpentingan akan merapi. dan gunung indah itu dengan segala erupsinya mencadi bahan konstelasai banyak orang. peneliti, lsm, negara hingga media. yah..merapi benar benar jadi berkah banyak orang…..
itulah hidup…
Singapura: Arif dan Lebih Tahu Bagaimana Menghargai Sejarahnya
Selain sebagai surga belanja dan pusat perdagangan dunia, ternyata Singapura juga punya daya tarik tersendiri dalam hal sejarah. Khususnya museum. Ini terlihat dari bagaimana perhatian Negara yang satu ini pada tempat barang barang berbau sejarah itu ditampung. Selain dipromosikan cukup gencar, ditata apik dan semenarik mungkin museum disana jauh dari kesan menakutkan.
Promosi cukup gencar terlihat mulai kita masuk di Singapura. Dari bandara Internasional Changi kita begitu mudahnya mendapatkan peta, program dan tempat pariwisata singapura, dan yang paling menarik perhatian saya adalah brosur dengan tulisan I love Museum. Di brosur tersebut terpampang jelas apa saja musem yang ada disana dan bagaimana cara menuju kesana serta beberapa event yang sedang berlangsung.
Singapura setidaknya memiliki lebih dari sepuluh museum. Namun, adalimamuseum yang menjadi andalan dan cukup banyak dikunjungi. Museum tersebut adah adalah Asian Civilisation Museum, National Museum of Singapore, Peranakan Museum, Singapore Art Museum, dan Singapore Philatelic Museum.Limamuseum tersebut masuk dalam daftar brosur yang ditawarkan.
Maka ketika saya berkunjung ke Singapura, bersama dua rekan saya dari media lain memilih museum sebagai salah satu tujuan saya. Kebetulan dua orang teman yang saya kenal juga memiliki ketertarikan yang sama pada museum. Akhirnya, Selama empat hari disana, baru pada hari ketiga dan keempat saya bisa berjalan jalan. Itupun juga setelah acara usai sekitar jam 3 sore keatas. Lantaran tanpa tour guide akhirnya kami bertiga harus membaca peta dan brosur hingga mencari transportasi menuju museum.
Museum yang kami kunjungi pertama adalah Asian Civilisation Museum. Di museum ini menyimpan koleksi dari empat wilayah peradaban di Asia. Mulai dari Koleksi peradaban China, Asia Tenggara, Asia Barat (Islam) dan Juga Asia Tenggara. Dari tempat kami di elizabet mount ibutuhkan sekitar satu jam perjalanan menuju kesana. Sebenarnya dengan menggunakan MRT hanya membutuhkan waktu lima belas menit, kemudian dilanjutkan dengan berjalan santai dan tersesat hingga 45 menit.
Saat kami memasuki museum dua petugas sudah menanti. Dengan begitu ramah mereka menyambut pengunjung. Kami dilarang untuk membawa makanan ke dalam museum. Lantaran kondisi teman saya yang tidak memungkinkan masuk karena sakit, saya akhirnya hanya masuk ruang pameran saja. Saat itu sedang berlangsung pameran dengan tajuk Contemporary Islamic Calligraphy: Tradition And Innovation yang berisi karya kaligrafi dari para seniman di Asia.Mulai Jepang,Singapore,Malaysiadan sebagainya.
Pameran yang menampilkan lebih dari dua puluh karya tersebut terletak di lantai satu. Disamping ruang pameran terdapat beberapa koleksi museum ini. Seperti perahu, mata uang, baju, dan sebagainya di zaman dahulu. Kesemua koleksi tersebut bercerita tentang asal usul masyarakat Singapura.
Meski tidak menjelajah dan masuk ke ruang pamer satu persatu saya cukup salut dengan pemerintah Singgapura yang sangat perduli terhadap museum. Dari sisi bangunan, gedung lama dibuat semenarik mungkin. Salah satunya di beberapa bagian dirubah dengan model minimalis namun tidak menghilangkan kesan klasik dan sejarah. Yang hasilnya bangunan museum tak lagi menyeramkan. Ini berbeda dengan beberapa dengan beberapa kondisi museum diIndonesiayang selain suram juga banyak yang takterawat.
Saya juga terkesan dengan keramahan petugas museum. Saat kami datang dua orang petugas sudah siap di pintu. Ruang informasi di museum tersebut juga dijaga oleh dua orang petugas yang menjelaskan tentang ticket dan brosur museum. Untuk ticket museum di Singapura berkisar antara 5 hingga 7 dollar singapura. Pengunjung juga bebas untuk mengambil brosur tentang museum. Tak hanya brosur museum Asian Civilisation Museum saja yang ada. Tetapi juga brosur museum yang lainnya. Selain itu, juga disediakan tour guide gratis untuk berkeliling Singapore.
Selain itu pemerintah Singapura tampaknya juga cukup pandai untuk mengajak masyarakatnya menyukai museum. Ini terbukti dari berbagai program untuk warganya dengan akses gratis masuk museum. Tempat ini gratis untuk lansia, guru, dan semua anak sekolah dengan menunjukkan kartu pelajar atau kartu penduduk permanent resident. Disamping itu setiap Jumat mulai jam 7 hingga 9 malam gratis bagi semua pengunjung.
Setelah puas berfoto di di depan asianCivilizationMuseumdan menyusuri tepi sungaiSingaporeakhirnya kami pulang. Perjalanan kami lanjutkan hari berikutnya. Karena keterbatasan waktu pada hari berikutnya kami hanya berkunjung sekilas di dua museum lainnya. Yaitu National Museum of Singapore dan Singapore Art Museum (SAM). Di dua museum tersebut kami hanya berfoto foto di depannya. Kami berjanji jika ada kesempatan kembali berkunjung ke Singapura pasti tak akan melewatkan untuk menjelajah koleksiny
puisi habibi untuk istrinya
Puisi BJ Habibie utk almarhumah istrinya
Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu. Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu. Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi. Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang. Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada, aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini. Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang, tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik. mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini. Selamat jalan, Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya, kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada. selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku, selamat jalan, calon bidadari surgaku …. BJ.HABIBIE
semoga tak takut membaca
Membaca Buku?
Siapa takut?
“Apabila saya tidak mencatat temuan-temuan saya, saya tentu akan melupakannya begitu saja. Apabila saya mencatatnya, niscaya saya tidak akan melupakannya….”
(Bethoven, komposer dunia)
Begitulah kira-kira awal motivasi lahirnya tradisi baca-tulis dalam peradaban manusia. Tabir yang menutupi sejarah pun terbuka ketika tulisan tertua ditemukan dan dipelajari. Tulisan atau teks lantas menjadi sesuatu yang sangat penting dalam peradaban manusia. Tanpa kesaksian yang terwujud dalam teks atau tulisan, sejarah dalam pengertin histoire recite (sejarah yang dikisahkan) belum ada.
Keberadaan buku lantas menjadi teramat penting bagi manusia ketika kemudian Guttenberg menemukan mesin cetak yang memungkinkan terwujudnya pemasaran buku. Ketika peradaban terus berjalan meninggalkan jejak lakon manusia, buku menjadi bukti keberadaan peradaban manusia.
“Buku adalah jendela dunia”, ungkapan ini tidak akan pernah lekang sampai kapan pun karena memang seperti itulah makna sebuah buku. Melalui buku pula kita dapat menelusuri sejarah masa lalu maupun memprediksi masa depan. Buku adalah salah satu pintu dan kunci menuju kearah peradaban dan kebudayaan yang lebih baik.
Dengan membaca, cakrawala berpikir kita akan terbuka. Kabut kelam otak akan segera sirna tersapu oleh hembusan angin segar ilmu pengetahuan. Pengetahuan yang luas dapat kita tempuh dengan bacaan yang mampu membawa kita menyelami bumi, laut, langit bahkan bintang-bintang
Dengan hanya duduk membaca buku sambil menyeruput secangkir kopi kita bisa menjelajah dunia yang kita mau. Bahkan, yang belum kita pernah kunjungi secara fisik sekalipun. Tentu saja, sensasi membaca itu yang kemudian akan terkunci dalam memori otak, dan menimbulkan keinginan untuk bermimpi dan mengkhayalkan tempat tempat tersebut.
Secara umum kaum muda sebenarnya sangat membutuhkan buku. Sesuai usianya yang relatif muda, mereka sangat membutuhkan bacaan-bacaan yang bersifat entertainment layaknya komik dan novel disamping bacaan sekolah atau kuliah.
Bacaan-bacaan yang relative ‘berat’ seperti masalah Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek), Filsafat, Politik, Sastra dan lainnya jarang tersentuh. Hanya sebagian saja dari kaum muda yang mau menbacanya atau (mungkin) jika hanya untuk keperluan tugas sekolah atau kuliah.
Yang menyedihkan justru pada remaja yang sama sekali tidak suka membaca (remaja cuekisme). Mereka inilah yang seringkali disebut remaja tu-la-lit, ngga ngerti apa-apa. Tidak jarang jika diajak bicara ngga nyambung karena pengetahuan mereka sangat terbatas, cetek.
Kondisi ini juga diperparah dengan penetrasi media elektronik yang dengan gencar dipublikasikan yang membuat buku semakin ditinggalkan. Mulai dari radio, televisi, play station, media player game, handphone,iphone, laptop sampai komputer. Hingga tak heran jika kini kaum muda lebih bangga membawa ipod, laptop, dan handphone kemanapun daripada sebuah buku. ”Kuno” pikir mereka.
Tipikal remaja yang membuang waktu mereka hanya untuk bermain tanpa membaca sangat minim di Jepang dan Malaysia. Koran Asahi Shimbun Tokyo pernah melaporkan, para remaja Jepang dan Malaysia sangat gemar membaca. Kemana pun mereka pergi pasti membawa “sangu” atau menenteng buku, majalah atau Koran. Dalam waktu sebulan, tidak kurang lima judul buku (berkategori ‘berat’) mereka lahap dan puluhan jilid komik. Singkatnya, di mana saja, apa saja, ke mana saja, dan kapan saja mereka mambaca. Nah, seharusnya “model” seperti inilah yang harus coba diterapkan para remaja kita.
Meski tak mudah diterapkan, sebenarnya berbagai media yang mendukung budaya membaca buku sudah semakin menjamur. Mulai dari perpustakaan, toko buku, penerbit, Book Fair, Cuci Gudang Buku,Kompetisi Membaca, Meresensi, Menulis, Mendongeng, Diskusi Interaktif mingguan, Bengkel Penulisan Kreatif, Bedah Buku, Pertemuan Peresensi, Penulis, dan Pembaca serta berbagai kegiatan lain yang gampang diakses.
Pembuatan dokumentasi tertulis sebuah komunitas untuk anak muda juga bisa menjadi alternative tersendiri. Saya mencontohkan sebuah komunitas dengan nama “Kembang Merak” di Yogyakarta. Para pegiatnya adalah mahasiswa UGM yang pernah mampir di BPPM Balairung UGM. Terpisah dari lembaga pers kampus tersebut, komunitas ini mengadakan berbagai kegiatan. Mulai dari diskusi hingga menerbitkan buku. Sekelompok anak muda ini mencoba mengikat semua diskusi dan bacaaan yang menjadi minat anggotanya. Walhasil terbitlah antologi puisi, buku sari diskusi dan buku lainnya yang bisa dinikmati khalayak umum.
Oleh karena itu mulai sekarang, mari kita manfaatkan waktu dengan sesuatu yang bermanfaat. Salah satunya adalah membaca. Cobalah mulai merubah image dan persepsi kita yang salah tentang membaca. Tidak harus menjadi kutu buku untuk membaca. Membaca bukanlah suatu hal yang negatif. Sebaliknya, membaca, kita gunakan sebagai media untuk hidup dan menjelajahi kehidupan.
Tentunya hal ini juga harus dibarengi dengan peningkatan kualitas buku yang makin menarik. Selain dibuat dengan beragam topik dan jenis buku, isi dari buku juga harus berkualitas. Untuk buku terjemahan, sebisa mungkin penerbit bertanggung jawab dengan hasil terjemahan. Ini, lantaran banyak buku asing yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan beredar di pasaran sangat kacau dalam bahasa penerjemahan.
Selain itu sebisa mungkin buku juga dikemas semenarik mungkin. Kampanye membaca buku juga harus dilakukan, agar masyarakat tak hanya dicekoki dengan berbagai iklan fashion atau produk massal yang digemari banyak orang. Dari sini harapannya kaum muda yang menggauli buku tak lagi dijuluki dengan ”kutu buku” yang imagenya ndeso dan kuno. Tapi, kaum muda yang suka membaca dianggap sesorang yang modern dan smart dalam pergaulan. Jadi, hai kaum muda mari membaca. Sekali lagi membaca buku? Siapa takut?(*)
Hello world!
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

